Kaji eksperimental pengeringan biji kopi dengan menggunakan sistem konveksi paksa

Ratna Sary

Abstract


Selama ini hasil panen biji kopi di Aceh dijual oleh petani dalam keadaan masih basah (buah gelondong), walaupun ada sebagian yang dikeringkan sebelum menjualnya. Namun proses pengeringan yang dilakukan masih secara alami atau tradisional yaitu dibawah sinar matahari yang membutuhkan waktu sangat lama dan kurang higienisnya produk yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan penjemuran dilakukan di lahan terbuka, yang hanya dilapisi plastik atau terpal, lantai semen, bahkan ada yang langsung melakukan penjemuran di tanah terbuka tanpa menggunakan alas sehingga mudah terkena kotoran-kotoran seperti binatang, serangga, tanah ataupun krikil. Pengeringan dengan peralatan pengering merupakan salah satu solusi untuk megatasi hal tersebut. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan konveksi alamiah dan konveksi paksa. Konveksi alamiah membutuhkan waktu sekitar 12-20 jam untuk proses pengeringan, sehingga membutuhkan metode konveksi paksa (penambahan kipas), untuk mempercepat waktu pengeringan. Konveksi paksa dilakukan dengan 3 variasi kecepatan udara yaitu 3,15 m/s dengan temperatur rata-rata 600C dapat mengurangi kadar air sebanyak 31 % selama 4 jam dari nilai kadar air awal 42 % menghabiskan bahan bakar sebanyak 1,2 kg. Kecepatan udara 3,75m/s dengan temperatur rata-reata 600C dapat mengurangi kadar air sebanyak 33 % selama 4 jam, dari nilai kadar air awal 42 % menghabiskan bahan bakar sebanyak 1,3 kg. Sedangkan kecepatan udara 4,03 m/s dengan temperatur rata-rata 600C selama 4 jam dapat mengurangi kadar air sebanyak 36 % nilai kadar air awal 42 % menghabiskan bahan bakar 1,5kg. Semakin cepat kecepatan udara semakin cepat pula proses pengeringan atau penurunan kadar air biji kopi. Untuk menghasilkan kadar air sesuai setandar Indonesia 12% pada proses pengeringan dengan menggunakan kecepatan udara 4,03 m/s membutuhkan waktu sekitar 3 jam.
Kata kunci: Pengeringan, Kopi, Konveksi paksa, Kadar Air.

References


http://ditjenbun.pertanian.go.id/tinymcpuk/ gambar/file/statistik/2015/KOPI%202013%20-2015.pdf (diakses tanggal 23 desember 2015)

http://www.aeki-aice.org/page/sejarah/id (diakses tanggal 23 desember 2015)

Suswono, 2012, Pedoman Paska Panen Kopi,Peraturan Menteri Pertanian Nomor 52/Permentan/OT.140/9/2012

Hendarson, S. M. and R. L. Perry. 1976. Agricultural Process Engineering. 3 rd ed. The AVI publ. Co., Inc, Wesport, Connecticut, USA.

Hall, C. W. 1957. Drying and Storage of Agriculture Crops. The AVI Publishing Company, Inc. Westport, Connecticut.

Brooker, D. B., F. W. Bakker-arkema and C. W. Hall, 1974. Drying Cereal Grains. The AVI publishing Company, Inc. Wesport.

Estiasih, Teti dan Kgs Ahmadi, 2009. Teknologi Pengolahan Pangan. Bumi Aksara. Malang.

J.P Holman, Perpindahan kalor edisi ke enam, alih bahasa, Ir. E. Jasfi M.Sc. Lemigas Erlangga, 1997, Jakarta

Bergman, T. L,DeWitt, D. P,Incropera, F. P.,2007 Fundamentals of Heat and Mass Transfer, Edisi ke-6, John Wiley and Sons, USA.

Winarno, F. G. 1993. Pengantar Teknologi Bahan. PT. Gramedia. Jakarta.




DOI: http://dx.doi.org/10.30811/jpl.v14i2.337

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Add comment



 

   

 

Lisensi Creative Commons

Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.