Pengaruh variasi sudut kampuh bevel groove terhadap kekuatan tarik material Stainless Steel 304

Husnul Fata, Muhammad Razi, Syukran Syukran

Abstract


Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) adalah suatu proses pengelasan dengan menggunakan gas mulia sebagai pelindung. Untuk menghasilkan busur listrik, digunakan elektroda yang tidak terkonsumsi terbuat dari logam tungsten atau paduannya yang memiliki titik lebur tinggi. Baja tahan karat austenite 304 atau yang sering disebut stainless steel 304 merupakan baja paduan dengan kandungan Cr 18-20%, dan Ni 8-10,5%. Baja jenis ini biasa digunakan sebagai bahan kontruksi utama dalam beberapa industri seperti nuklir, kimia, dan makanan. Baja ini memiliki ketahanan terhadap korosi yang baik karena terdapat lapisan kromium oksida pada permukaannya. SS304 merupakan baja yang memiliki tingkat kekerasan rendah sekitar 123 HB dan kekuatan tarik sebesar 505 N/mm². Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik hasil pengelasan GTAW pada baja tahan karat SS304 dengan variasi sudut kampuh bevel. Dari pengujian yang telah dilakukan, diketahui bahwa kekuatan tarik tertinggi terdapat pada material tanpa penyambungan dengan nilai rata- rata kekuatan tarik 63.84 kgf/mm², sedangkan pada material yang dilas kekuatan tertinggi terdapat pada kampuh bevel dengan sudut 40° dengan nilai rata- rata 55.30 kgf/mm°, sedangkan kekuatan tarik terendah terdapat pada kampuh bevel dengan sudut 35° dengan rata- rata kekuatan tarik 50.68 kgf/mm².

Kata kunci :  Pengelasan GTAW, stainless steel 304, kekuatan tarik, elektroda EWTH-2, kampuh.

 

Effect of groove variations on the tensile strength of the material Stainless Steel 304

 

Abstract

Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) is a welding process using argon gas as a shield. To produce electric arcs, non-consumed electrodes made of tungsten metal or alloys that have a high melting point. Stainless steel 304 is an alloy steel with 18-20% Cr content, and Ni 8-10.5%. This type of steel is commonly used as the main construction material in several industries such as nuclear, chemical, and food. This steel has good corrosion resistance because there is a layer of chromium oxide on its surface. SS304 is a steel that has a low hardness level of about 123 HB and tensile strength of 505 N / mm². This study aims to determine the tensile strength of GTAW welding results in SS304 stainless steel with a variation of the groove angle. From the tests that have been carried out, it is known that the highest tensile strength is in the material without connection with an average tensile strength value of 63.84 kgf / mm², while in the material welded the highest strength is in the bevel groove with an angle of 40 ° with an average value of 55.30 kgf / mm °, while the lowest tensile strength is in the bevel groove with an angle of 35 ° with an average tensile strength of 50.68 kgf / mm².

 


Keywords


GTAW welding, stainless steel 304, tensile strength, EWTH-2 electrodes, groove.

References


V. A. Setyowati and S. Suheni, “VARIASI ARUS DAN SUDUT PENGELASAN PADA MATERIAL AUSTENITIC STAINLESS STEEL 304 TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN STRUKTURMAKRO,” J. IPTEK, vol. 20, no. 2, p. 29, Dec. 2016.

A. Azwinur, S. Syukran, and H. Hamdani, “KAJI SIFAT MEKANIK SAMBUNGAN LAS BUTT WELD DAN DOUBLE LAP JOINT PADA MATERIAL BAJA KARBON RENDAH,” SINTEK J. J. Ilm. Tek. Mesin, vol. 12, no. 1, pp. 9–16, Jun. 2018.

Wiryosumarto H., Teknologi Pengelasan Logam. Jakarta: Erlangga, 2000.

D. Suprijanto, “PENGARUH BENTUK KAMPUH TERHADAP KEKUATAN BENDING LAS SUDUT SMAW POSISI MENDATAR PADA BAJA KARBON RENDAH,” Jur. Tek. Mesin STTNAS Yogyakarta, vol. 8, pp. 91–96, 2013.

M. Siddiq, N. Nurdin, and I. Amalia, “Pengaruh jenis kampuh terhadap ketangguhan sambungan pengelasan material St37 dengan AISI 1050 menggunakan proses SMAW,” J. Weld. Technol., vol. 1, no. 1, pp. 11–16, Jun. 2019.

D. J. K. John C. Lippold, Welding Metallurgy and Weldability of Stainless Steel. Canada: Wiley Inter Science, 2005.

S. Novita, “Analisis Laju Korosi dan Kekerasan pada Stainless Steel 304 dan Baja Nikel Laterit dengan Variasi Kadar Ni (0, 3, dan 10%) dalam Medium Korosif,” 2018.

T. Endramawan, E. Haris, F. Dionisius, and Y. Prinka, “Aplikasi Non Destructive Test Penetrant Testing (Ndt-Pt) Untuk Analisis Hasil Pengelasan Smaw 3g Butt Joint,” JTT (Jurnal Teknol. Ter., vol. 3, no. 2, pp. 44–48, 2017.

ASME, ASME Code Section V Article 6. New york, 2013.

W. Chuaiphan, S. Chandra-Ambhorn, S. Niltawach, and B. Sornil, “Dissimilar welding between AISI 304 stainless steel and AISI 1020 carbon steel plates,” in Applied Mechanics and Materials, 2013, vol. 268, no. PART 1, pp. 283–290.

E. Taban, E. Taban, E. Deleu, A. Dhooge, and E. Kaluc, “Evaluation of Dissimilar Weld between ferritic stainless steel modified 12%Cr and carbon steel S355. m Evaluation of Dissimilar Welds between Ferritic Stainless Steel Modified 12% Cr and Carbon Steel S355 A modified ferritic stainless steel was subjected to a barrage of testing to determine its suitability for a variety of structural applications,” 2008.

I. Arif Rahman Hakim, “Analisa pengaruh variasi kampuh terhadap hasil pengelasan SMAW pada stainless steel 304 menggunakan pengujian ultrasonic dan kekuatan tarik.,” J. POLIMESIN, vol. 18, no. 1, pp. 30–38, 2020.

ASME E8/E8M, Standart Test Methods for Tension Testing of Metallic Material. West Conshohocken, United States: American Society for Testing Methods.




DOI: http://dx.doi.org/10.30811/jowt.v2i1.1128

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 

 

 

 Lisensi Creative Commons

Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.


Mailing Address:

Politeknik Negeri Lhokseumawe

Jl. Banda Aceh-Medan
Km. 280,3, Buketrata, Mesjid Punteut, Blang Mangat,
Kota Lhokseumawe, 24301

Propinsi Aceh,
Indonesia